tvOnenews.com - Keputusan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo de Sousa Mota, menolak tawaran kerja sama pemasangan iklan dari Tempo Media Group memicu perdebatan di ruang publik. Perdebatan muncul setelah surat penawaran tersebut beredar dan mendapat beragam tanggapan dari sejumlah pihak.
Joao mengatakan dirinya memilih tidak melanjutkan tawaran kerja sama tersebut karena selama ini memandang Tempo sebagai media yang menjunjung tinggi independensi jurnalistik.
"Jujur sejujurnya saya kecewa. Saya sedih, saya sedih," kata Joao.
Ia mengaku tidak menyangka menerima surat penawaran kerja sama dari Tempo Media Group. Menurutnya, selama ini Tempo dikenal sebagai media yang menjaga independensi jurnalistik.
"Saya kecewanya karena Tempo Media yang selama ini saya banggakan dan hormati. Menurut saya independensi mereka jaga itu harganya mahal. Jadi ini preseden tidak baik," ujarnya.
Di tengah polemik tersebut, penggiat media sosial Silvia Tjan menilai perdebatan yang berkembang bukan semata mengenai ada atau tidaknya pemisahan antara divisi bisnis dan redaksi. Menurutnya, perhatian publik juga tertuju pada bagaimana independensi media dipersepsikan.
"Tempo mengatakan iklan tidak membeli berita. Oke. Tapi justru karena Tempo mengklaim memiliki benteng independensi, standar yang dipakai seharusnya lebih tinggi dibanding media pada umumnya," kata Silvia, Sabtu 25 Juli 2026.
Silvia berpendapat publik tidak memiliki akses untuk mengetahui secara langsung bagaimana mekanisme pemisahan antara kepentingan bisnis dan redaksi dijalankan di internal perusahaan media.
"Publik tidak tahu bagaimana diskusi di dalam redaksi berlangsung. Yang bisa dinilai hanyalah apa yang terlihat dari luar," ujarnya.
Ia menilai aktivitas bisnis perusahaan media kepada pihak yang juga menjadi objek pemberitaan tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran etika. Namun, menurutnya, kondisi tersebut dapat memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat.
"Apakah itu otomatis melanggar etik? Belum tentu. Tapi apakah itu menimbulkan potensi konflik kepentingan yang layak dipertanyakan? Jelas iya," katanya.
Silvia juga menyampaikan bahwa kepercayaan publik terhadap media, menurut pandangannya, dibangun melalui upaya meminimalkan potensi konflik kepentingan.
"Kalau standar transparansi dan konflik kepentingan berlaku untuk pemerintah, BUMN, dan pejabat publik, maka standar yang sama seharusnya juga berlaku bagi Tempo. Karena media yang meminta akuntabilitas juga harus siap untuk diakuntabilitaskan," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Tempo Media Group Wahyu Dhyatmika menegaskan bahwa penawaran kerja sama komersial tidak bertentangan dengan independensi pemberitaan.
"Namun kesimpulan bahwa setiap pendekatan bisnis otomatis membatalkan independensi pemberitaan berangkat dari pemahaman yang keliru mengenai cara kerja perusahaan pers," kata Wahyu.
Menurut Wahyu, perusahaan pers memiliki divisi bisnis yang bertugas menawarkan kerja sama komersial kepada berbagai pihak, termasuk institusi yang juga menjadi objek pemberitaan. Ia menegaskan fungsi bisnis dan redaksi dijalankan secara terpisah sehingga aktivitas komersial tidak memengaruhi independensi jurnalistik.
Polemik ini bermula setelah beredar surat bertanggal 7 Juli 2026 yang ditandatangani Direktur Utama Tempo Media Group, Wahyu Dhyatmika, kepada Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara. Surat tersebut berisi permohonan audiensi pada 14 Juli 2026 dengan salah satu agenda pembahasan peluang kerja sama pemasangan iklan.
Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi perbincangan di ruang publik. Berbagai pandangan bermunculan mengenai hubungan antara aktivitas bisnis perusahaan media dan independensi redaksi. Sementara itu, Tempo telah menyampaikan penjelasan bahwa fungsi bisnis dan redaksi dijalankan secara terpisah, sedangkan Joao tetap menyampaikan alasan penolakannya atas tawaran kerja sama tersebut.
Load more