Bandung, tvOnenews.com - Peristiwa kerusuhan yang terjadi saat peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Bandung menyisakan luka mendalam bagi sejumlah pihak.
Tak hanya merusak fasilitas umum, aksi anarkis tersebut juga berdampak langsung pada masyarakat kecil, termasuk para pedagang yang menggantungkan hidup dari usaha harian mereka.
Salah satu kisah yang menyita perhatian publik datang dari seorang pedagang bernama Nandang.
Ia menjadi korban setelah kios tempatnya berjualan rokok, bensin, dan gas LPG 3 kg dibakar oleh oknum perusuh.
Kehilangan tempat usaha sekaligus sumber penghasilan membuatnya terpukul hingga tak kuasa menahan tangis.
Kisah tersebut akhirnya sampai ke telinga Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dalam sebuah pertemuan yang penuh haru, Nandang mengadu langsung kepada orang nomor satu di Jawa Barat tersebut.
Respons cepat pun diberikan oleh Dedi Mulyadi dengan memberikan bantuan nyata yang langsung mengubah nasib sang pedagang.
“Ini dengan Bapak Nandang, bapak Nandang ini menangis di hadapan saya karena kios tempat jualannya dibakar saat kerusuhan May Day. Sekarang Pak Nandang sudah tenang, hutang pembuatan kios dan modalnya sudah lunas,” ujar Dedi Mulyadi melalui media sosial pribadinya.
Tak berhenti sampai di situ, Dedi juga memastikan keberlanjutan hidup Nandang dengan memberinya pekerjaan baru.
Mulai hari Senin, Nandang resmi bekerja sebagai tenaga kebersihan di lokasi tempat ia dulu berjualan.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap korban langsung dari aksi kerusuhan.
Tidak hanya sekadar memberikan bantuan finansial, tetapi juga solusi jangka panjang agar korban dapat kembali bangkit dan menjalani kehidupan dengan lebih stabil.
“Bapak tidak punya beban lagi dan mulai hari Senin kerja jadi tenaga kebersihan di tempat Bapak jualan,” lanjut Dedi Mulyadi.
Di tengah empati terhadap korban, Dedi Mulyadi juga menyampaikan sikap tegas terhadap para pelaku kerusuhan.
Ia menegaskan bahwa tindakan anarkis tetap harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Hal ini penting untuk memberikan efek jera sekaligus menjaga ketertiban umum.
“Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Namun, pelaku kerusuhan tetap diproses secara hukum berdasarkan undang-undang yang berlaku,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dedi juga membuka peluang pembinaan bagi pelaku kerusuhan yang masih di bawah umur.
Ia menyebutkan adanya opsi program pembinaan melalui barak militer sebagai upaya membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab bagi para remaja yang terlibat.
Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan yang tidak hanya menghukum, tetapi juga mendidik agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupaya menyeimbangkan antara penegakan hukum dan pembinaan sosial.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dampak kerusuhan tidak hanya dirasakan oleh negara atau fasilitas publik, tetapi juga oleh masyarakat kecil yang kehilangan sumber penghidupan.
Kisah Nandang menjadi gambaran nyata bagaimana satu aksi anarkis dapat menghancurkan kehidupan seseorang dalam sekejap.
Namun di balik tragedi tersebut, muncul harapan baru. Bantuan dan perhatian dari pemerintah memberikan peluang bagi korban untuk kembali bangkit. (adk)
Load more