Cari

Senin, 27 Juli 2026

Tutup
Petugas Bawaslu Provinsi Jawa Barat meninjau kesiapan logistik untuk Pilkada 2024 di Jabar.
Sumber :
  • ANTARA/HO Bawaslu Jabar

Bawaslu Jabar Cium Dugaan TPS Rawan Pelanggaran di Pilkada 2024

Koordinator Divisi Pencegahan dan Partisipasi Masyarakat Bawaslu Provinsi Jawa Barat, Nuryamah, akui telah petakan 25 indikator potensi TPS rawan pelanggaran.
Minggu, 24 November 2024 - 17:09 WIB

Bandung, tvOnenews.com - Koordinator Divisi Pencegahan dan Partisipasi Masyarakat Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Jawa Barat, Nuryamah, mengaku telah petakan 25 indikator potensi tempat pemungutan suara (TPS) yang rawan terjadinya pelanggaran.  

Sebanyak 25 indikator potensi kerawanan tersebut, ada 10 indikator paling banyak terjadi pelanggaran, 10 banyak terjadi, dan lima indikator tidak banyak, tetapi perlu diantisipasi.

"Pemetaan kerawanan dilakukan terhadap delapan variabel dan 25 indikator dari 5.957 kelurahan/desa dan 73.862 TPS di 27 kabupaten/kota, yang melaporkan kerawanan TPS di wilayahnya," kata Nuryamah dalam keterangannya, Minggu (24/11/2024).

Pengambilan data TPS rawan ini berlangsung selama 6 hari, mulai 10 hingga 15 November 2024.



Variabel dan indikator potensi TPS rawan, yakni: pertama, penggunaan hak pilih (DPT yang tidak memenuhi syarat, DPTb, potensi DPK, penyelenggara pemilihan di luar domisili, pemilih disabilitas terdaftar di DPT atau Riwayat PSU/PSSU).

Kedua, keamanan (riwayat kekerasan, intimidasi atau penolakan penyelengaraan pemungutan suara); ketiga, politik uang; keempat, politisasi SARA; kelima, netralitas (penyelenggara pemilihan, ASN, TNI/Polri, kepala desa, dan perangkat desa).

Keenam, logistik (riwayat kerusakan, kekurangan, kelebihan atau keterlambatan); ketujuh, lokasi TPS (sulit dijangkau, rawan konflik, rawan bencana, dekat dengan lembaga pendidikan, pabrik, pertambangan, dekat dengan rumah Paslon atau posko tim kampanye); kedelapan, jaringan listrik dan internet.

Hasilnya 10 indikator potensi TPS rawan paling banyak terjadi di 14.760 TPS.

Sementara, di tempat pemungutan suara ini terdapat pemilih disabilitas yang terdaftar di DPT di sana.

Berikutnya di 13.413 TPS yang terdapat pemilih DPT sudah tidak memenuhi syarat, di 7.675 TPS yang terdapat pemilih pindahan (DPTb), dan di 3.922 TPS yang terdapat penyelenggara pemilihan yang merupakan pemilih di luar domisili TPS tempatnya bertugas.

Di 1.856 TPS yang terdapat potensi pemilih memenuhi syarat, tetapi tidak terdaftar di DPT (potensi DPK).

Kemudian, di 1.802 TPS yang terdapat kendala jaringan internet di lokasi TPS.

Selanjutnya di 1.402 TPS yang didirikan di wilayah rawan bencana, lalu di 908 TPS yang dekat lembaga pendidikan yang siswanya berpotensi memiliki hak pilih.

Lalu, di 861 TPS yang berada di dekat rumah pasangan calon atau posko tim kampanye pasangan calon.

"Di 604 TPS yang memiliki riwayat kekurangan atau kelebihan dan bahkan tidak tersedia logistik pemungutan dan penghitungan suara pada saat pemilu," terangnya.

Untuk 10 indikator potensi rawan, banyak terjadi di 533 TPS sulit dijangkau (geografis dan cuaca), 288 TPS yang didirikan di wilayah rawan konflik, 285 TPS di dekat wilayah kerja (pertambangan, pabrik), 279 TPS terdapat riwayat praktik pemberian uang atau materi lainnya yang tidak sesuai dengan ketentuan pada masa kampanye di sekitar lokasi TPS.

Untuk di 256 TPS yang terdapat kendala aliran listrik di lokasi TPS, sebanyak 194 TPS memiliki riwayat keterlambatan distribusi logistik pemungutan dan penghitungan suara di TPS (maksimal H-1) pada saat pemilu, tercatat di 191 TPS memiliki riwayat logistik pemungutan dan penghitungan suara mengalami kerusakan di TPS pada saat pemilu.

Sebanyak 177 TPS memiliki riwayat terjadi intimidasi kepada penyelenggara pemilihan, 167 TPS memiliki riwayat terjadi kekerasan di TPS, dan 138 TPS yang terdapat riwayat pemungutan suara ulang (PSU) dan/atau penghitungan surat suara ulang (PSSU).

Selain itu, lima indikator potensi TPS rawan yang tidak banyak terjadi, tetapi perlu mengantisipasinya, yaitu 63 TPS di lokasi khusus, 51 TPS yang terdapat petugas KPPS berkampanye untuk pasangan calon, dan 37 TPS yang memiliki riwayat ASN, TNI/Polri, perangkat desa melakukan tindakan atau kegiatan yang menguntungkan atau merugikan pasangan calon.

Tercatat di 16 TPS yang terdapat riwayat praktik menghina atau menghasut di antara pemilih terkait dengan isu agama, suku, ras, dan antargolongan di sekitar lokasi TPS serta tiga TPS yang memiliki riwayat penolakan penyelenggaraan pemungutan suara.

Bawaslu Provinsi Jawa Barat memetakan 25 indikator potensi tempat pemungutan suara (TPS) yang rawan tersebut dengan tujuan mencegah pelanggaran di TPS pada Pilkada 2024.(ant/lkf)

Komentar

Berita Terkait

Topik Terkait

Jangan Lewatkan

img_title

Surat Tempo ke Agrinas Menuai Perdebatan, Pengamat Ingatkan Pentingnya Etika Media

Sejumlah kalangan menilai perdebatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kepercayaan publik.
img_title

Adhyaksa FC Ubah Nama Jelang Musim Baru

Presiden Klub Adhyaksa FC Eko Setyawan dalam keterangannya di  Palangka Raya
img_title

Bepe sebut Beckham dan Rayhan Bisa Jadi Pembeda di Timnas Indonesia

Bambang menjelaskan Beckham Putra dan Rayhan Hannan cukup menyita perhatiannya sebagai mantan penyerang timnas Indonesia.
img_title

PSIM Yogyakarta Boyong Bek Kiri Ceko Ondrej Rudzan

Setelah lebih dulu merekrut gelandang asal Polandia, Adrian Purzycki, Laskar Mataram kini resmi mengamankan jasa bek kiri asal Republik Ceko, Ondrej Rudzan.
img_title

Tanggal 14 Mei 2026 Hari Libur Apa? Ada Long Weekend Pekan Ini

anggal 14 Mei 2026 diperingati sebagai Hari Kenaikan Yesus Kristus dan menjadi hari libur nasional di Indonesia. Yuk, simak jadwal long weekend pekan ini!
img_title

Kurban Sapi atau Kambing, Mana yang Lebih Besar Pahalanya? Ini Penjelasan Ustaz Khalid Basalamah

Kurban sapi atau kambing, mana yang lebih besar pahalanya? Simak penjelasan lengkap Ustaz Khalid Basalamah tentang hewan kurban paling afdal menurut sunnah.