Bandung, tvOnenews.com - Banjir bandang kembali melanda wilayah Kabupaten Bogor, tepatnya di Kecamatan Sukamakmur, setelah curah hujan tinggi mengguyur kawasan tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Peristiwa ini kembali memicu kekhawatiran warga, terutama mereka yang tinggal di daerah rawan longsor dan aliran sungai.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, seorang warga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi lingkungan yang semakin rusak.
Ia menyoroti maraknya pembangunan tempat wisata di kawasan perbukitan yang sebelumnya merupakan hutan dan daerah resapan air.
“Pak Dedi, tolong atensinya, kita yang ada di sini terancam sekali karena di bukit-bukit sudah banyak tempat wisata yang dibangun sehingga hutan ditebang,” ujar warga dalam video tersebut sambil memperlihatkan derasnya aliran air bah.
Menanggapi hal itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan respons tegas terkait penyebab utama banjir bandang yang kembali terjadi di Bogor.
Ia menyebut bahwa bencana tersebut tidak hanya dipicu oleh curah hujan tinggi, tetapi juga akibat perubahan tata ruang yang tidak terkendali.
“Saya sangat memahami berbagai problem kerusakan alam di Kabupaten Bogor. Hari ini banyak banjir dan longsor disebabkan karena perubahan tata ruang,” ujar Dedi Mulyadi melalui pernyataan di media sosial pribadinya.
Menurutnya, banyak lahan hijau yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air dan penahan longsor justru dialihfungsikan menjadi kawasan permukiman maupun area wisata.
Perubahan ini berdampak langsung terhadap kemampuan alam dalam menyerap air hujan, sehingga meningkatkan risiko banjir dan longsor.
Dedi Mulyadi juga menyoroti bahwa perubahan tata ruang tersebut sudah berlangsung cukup lama dan mencakup area yang sangat luas.
Akibatnya, sistem ekologi yang sebelumnya menjaga keseimbangan lingkungan menjadi terganggu.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini tengah berupaya untuk mengembalikan fungsi tata ruang di Bogor.
Langkah ini dilakukan agar kawasan pegunungan, aliran sungai, serta danau dapat kembali berfungsi optimal dalam menjaga keseimbangan alam.
“Kami berusaha mengembalikan tata ruang Bogor agar gunung-gunung terselamatkan, aliran sungai terselamatkan, danau terselamatkan sehingga bencana tidak datang terus-menerus,” jelasnya.
Selain itu, Dedi juga menyinggung kondisi di wilayah Sukamakmur yang menurutnya mengalami perubahan signifikan.
Banyak kawasan perbukitan yang kini berubah menjadi perumahan, yang berdampak pada meningkatnya aliran air ke daerah hilir.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada wilayah Bogor, tetapi juga daerah lain di sekitarnya.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa posisi Bogor sangat strategis karena berperan sebagai daerah penyangga bagi wilayah lain seperti Bekasi, Karawang, hingga Jakarta.
“Bogor itu bukan hanya untuk rakyat Bogor. Bogor menjaga Bekasi, menjaga Karawang, menjaga Jakarta,” tegasnya.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan di Bogor.
Menurutnya, kawasan tersebut tidak boleh hanya dijadikan sebagai objek eksploitasi tanpa memperhatikan aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.
Banjir bandang yang kembali terjadi ini menjadi peringatan keras bahwa keseimbangan alam harus dijaga.
Pembangunan yang tidak memperhatikan tata ruang dan daya dukung lingkungan berpotensi memicu bencana yang lebih besar di masa mendatang.
Dedi Mulyadi pun menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta dalam menjaga kelestarian alam, agar wilayah Bogor dapat terbebas dari ancaman bencana yang terus berulang. (adk)
Load more